Isra Mi’raj: Perjalanan Iman dan Panggilan Shalat

Oleh : Syamsul Hidayat S.Pd.I., M.Pd.
Sekretaris Lembaga Dakwah Komunitas  Muhammadiyah Sulawesi Selatan

Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ, sebuah perjalanan yang bukan hanya menembus jarak, tetapi menembus kedalaman iman. Allah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَىٰ

_“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…”_ (QS. Al-Isra’: 1)

Ayat ini tidak dimulai dengan sesuatu ungkapan selain dengan “Subḥānallāh”, penegasan bahwa peristiwa ini adalah urusan Allah, bukan sekadar logika manusia.

Isra Mi’raj terjadi bukan saat Nabi berada di puncak kejayaan, tetapi di titik terendah kesedihan. Istri tercinta wafat, pelindung setia berpulang, dakwah ditolak, tubuh dilukai di Thaif.

Inilah pesan besar bagi kita:
– Ketika manusia menutup pintu, Allah membuka langit.
– Ketika dunia menyakiti, Allah menghibur dengan kedekatan-Nya.

Isra Mi’raj: Ujian Keimanan

Peristiwa ini mengguncang keimanan manusia. Banyak yang ragu, mencibir, bahkan meninggalkan Islam. Namun Abu Bakar radhiyallāhu ‘anhu berkata dengan penuh keyakinan: _“Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu pasti benar.”_

Inilah iman sejati, iman yang tidak tawar-menawar dengan logika, iman yang bersandar penuh kepada kebenaran wahyu. Allah mengingatkan:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ

_“Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya.”_ (QS. Al-Baqarah: 2)

Shalat: Oleh-Oleh Langit

Isra Mi’raj bukan hanya kisah, tetapi menghadiahkan shalat. Ibadah yang tidak turun ke bumi, tetapi kita yang dipanggil naik kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:

الصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ

_“Shalat adalah mi’rajnya orang beriman.”_(HR. Al-Baihaqi)

Dari 50 waktu menjadi 5, namun pahala tetap 50. Ini bukan keringanan biasa, ini adalah pelukan kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

Namun pernahkah kita merenungkan:
– Betapa banyak shalat kita yang hanya sampai di sajadah, tidak naik ke langit.
– Betapa banyak sujud yang dilakukan, tetapi belum mengubah akhlak.

Allah berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

_“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”_ (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Jika shalat belum mencegah kita dari dusta, zalim, dan lalai, maka yang perlu diperbaiki bukan shalatnya saja, tetapi jiwanya.

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa:
• Islam bukan agama putus asa
• Iman tidak tumbang oleh ujian
• Shalat adalah sumber kekuatan perubahan
Rasulullah ﷺ bersabda:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ

_“Amalan pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat.”_(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jika shalat kita baik, maka baiklah seluruh hidup kita.
Jika shalat kita rusak, maka rusak pula tatanan kehidupan kita.

Isra Mi’raj bukan untuk sekadar dikenang setiap tahun, tetapi dihidupkan setiap hari:
• Shalat tepat waktu
• Shalat dengan hati
• Shalat yang melahirkan kejujuran, kepedulian, dan akhlak mulia

Mari kita jadikan momentum Isra Mi’raj sebagai titik balik hijrah spiritual:

Dari lalai menuju sadar
Dari formalitas menuju kualitas
Dari rutinitas menuju kedekatan dengan Allah

Baarakallahu Fiikum.

Post A Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Gallery

Tag

Subscribe