MAKASSAR – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bekerja sama dengan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan sukses menyelenggarakan kegiatan Pesantren Jalan Cahaya. Bertempat di Mushalla Mappakabaji, Kampung Matoa, Makassar, kegiatan yang berlangsung pada Sabtu-Ahad (7-8 Maret 2026) ini diikuti oleh 100 peserta yang terdiri dari anak jalanan dan pemulung.
Hadir sebagai pemateri, Ketua Bidang Pembinaan Komunitas Profesional LDK PWM Sulsel, Dr. M. Zakaria Al Anshoari, M.Sos., menekankan krusialnya penanaman fondasi spiritual bagi kelompok masyarakat marjinal sejak usia dini.
Tiga Hak Dasar dan Investasi Akhirat
Dalam paparannya mengenai pentingnya pendidikan Tauhid, Aqidah, dan Akhlak, Dr. Zakaria mengingatkan para orang tua dan pendamping mengenai tiga hak utama anak yang wajib dipenuhi dalam Islam:Memberikan nama yang baik, Mengajarkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. dan Memberikan pendidikan akhlak yang mulia.
“Pendidikan terbaik untuk putra-putri kita bukan sekadar bekal untuk dunia, melainkan investasi akhirat yang akan terus mengalir. Anak-anak di lingkungan marginal memiliki hak yang sama untuk mengenal penciptanya dan memiliki karakter yang luhur,” ujar Dr. Zakaria.
Pesan Keberkahan Hidup
Lebih lanjut, beliau membagikan lima pesan kunci bagi para peserta dan keluarga di Kampung Matoa untuk meraih keberkahan hidup:
– Meraih Keberkahan: Selalu mengupayakan cara-cara yang diredai Allah dalam menyambung hidup.
– Kekuatan Basmalah: Membiasakan diri mengawali setiap aktivitas harian dengan menyebut nama Allah.
– Pendidikan Terbaik: Menjadikan pendidikan agama sebagai prioritas utama bagi anak-anak.
– Doa dan Harapan: Selalu menggantungkan harapan hanya kepada Allah dalam menghadapi kesulitan.
– Amalan Bakda Maghrib: Merutinkan doa setelah salat Maghrib agar dilapangkan hati dan dimudahkan segala urusan.
Dakwah Inklusif bagi Masyarakat Rentan
Program Pesantren Jalan Cahaya ini dirancang khusus untuk menjangkau kelompok masyarakat marjinal yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pembinaan keagamaan formal. Kampung Matoa, yang mayoritas warganya berprofesi sebagai pemulung, menjadi titik fokus karena kerentanan sosial dan ekonominya.
Melalui kolaborasi ini, BAZNAS RI dan LDK PWM Sulsel menegaskan komitmen mereka untuk menghadirkan dakwah yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak nyata. Program ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal perubahan mentalitas dan spiritualitas bagi masyarakat rentan di Sulawesi Selatan, khususnya di Kota Makassar.





